Apple in My Life

Standard

Gue bukan Apple fanboy dan gue juga tidak membenci PC. Tiga tahun belakangan ini gue hampir tidak pernah menggunakan PC. Baru 3 bulan terakhir gue kembali menggunakan PC untuk membagi fokus kerja. Berhubung tempat gue kerja sekarang memberikan PC, jadi rasanya sayang aja kalo ga dimanfaatkan. Tulisan gue kali ini mengenai pengalaman gue sebagai pengguna PC yang beralih ke Mac.

Gue mengenal komputer sejak tahun 1990 dan PC pertama gue adalah komputer Acer dengan processor 286 dengan harddisk 60Mb dan memory 128kb. Dan gue udah merasakan transformasi sistem operasi PC mulai dari MS-DOS 3.3 hingga yang terakhir gue gunakan sekarang, Win7.

Sekitar awal tahun 2000-an gue mulai mengenal Apple dari internet dan temen kampus. Produk Apple yang pertama kali gue liat adalah iMac G3 dan iBook G3 (ClamShell) yang bentuknya bulet dan imut itu. Sepintas iMac dan iBook G3 ini keliatan girly banget tapi keliatan lebih keren kalo dibandingin dengan PC dan laptop pada waktu itu. Cuma gue ga tertarik untuk beli karena selain mahal iMac G3 ga gampang untuk di upgrade hardware nya.

iMac G3

iBook G3

Dari situ gue mulai ngikutin perkembangan Apple. Gue mulai mengagumi produk-produk apple sejak dirilisnya iMac dan iBook dan gue bercita-cita untuk bisa menggunakan produk Apple suatu saat nanti. Pada saat Apple merilis Macbook, itu adalah produk Apple terindah yang pernah gue liat. Pada saat produsen lain memproduksi laptop dengan warna hitam, Apple mengeluarkan laptop dengan warna putih yang elegan. Gue sendiri menggunakan laptop Sony Vaio yang diberikan kantor pada waktu itu. Pas lagi jalan-jalan di Ambassador, gue mampir ke Emax (salah satu Apple Store) dan gue ngeliat Apple Pro Keyboard yang seluruh tombolnya berwarna putih. Gue langsung tertarik dan langsung memboyong Apple Pro Keyboard pulang untuk dipasang di PC butut gue.

Apple Pro Keyboard

Beberapa bulan kemudian, pada saat sedang gue mengunjungi pameran komputer yang diadakan secara rutin setiap tahunnya di JHCC, gue ngeliat ada stand yang ngejual Mighty Mouse. Gue langsung jatuh cinta dengan penampilannya. Mighty Mouse adalah mouse yang paling unik yang pernah gue liat karena waktu itu semua mouse memiliki 2 button dan 1 up-down-scroll yang bisa diklik sedangkan Mighty Mouse tidak memiliki button untuk diklik,  tapi digantikan dengan pressure sensor untuk mendeteksi klik dan juga 1 scroll button yang bisa digerakkan 360 derajat. Selain itu, Mighty Mouse punya 2 button “tersembunyi” dibagian pinggir yang bisa berfungsi untuk mengaktifkan fitur Dashboard atau Exposé.

Awalnya menggunakan Mighty Mouse butuh penyesuaian, karena selain button yang tidak biasa, Mighty Mouse juga lebih berat daripada mouse pada umumnya. Ini karena Mighty Mouse yang gue gunakan adalah wireless mouse sehingga butuh batre untuk hidup dan beban batre menambah berat Mighty Mouse. Kalo diliat sepintas Mighty Mouse ini mirip sabun mandi.

Mighty Mouse

Sabun Mandi

Lengkap sudah. Bagi gue, kombinasi Apple Pro Keyboard, Mighty Mouse, dan PC butut gue ini sudah cukup memuaskan hasrat gue untuk memiliki produk Apple. Tapi jujur, kombinasi yang kacau sebenarnya, seperti menikahkan Datuk Maringgih dengan Siti Nurbaya. So wrong, but feels so good. Rasanya seperti baru beli Mac Pro tapi dengan kualitas yang jauh dibawah standard dan, yang lebih absurd lagi, bersistem operasi Linux karena kebetulan waktu itu gue cuma install Slackware di PC gue.

Pada pertengahan 2007, Apple kembali membuat gue amaze dengan iPod Touch nya tapi harganya cukup fantastis ketika pertama kali dirilis. Setelah beberapa bulan sabar nungguin harga turun, baru gue punya cukup uang untuk beli iPod Touch First Generation. Selang beberapa bulan iPod Touch itu gue hibahkan ke salah satu sohib gue sebagai hadiah perkawinannya.

Baru pada pertengahan 2008, berbekal bonus dari kantor akhirnya gue bisa beli sebuah Macbook Unibody, laptop Apple pertama yang menggunakan lapisan aluminium yang membuatnya lebih ringan dibanding Sony Vaio gue waktu itu. Namun beberapa bulan kemudian Apple mengeluarkan revisi dari Macbook Unibody yaitu Macbook Pro menggantikan versi Macbook Pro lama sebelum menggunakan aluminium unibody dan Macbook Unibody langsung dinyatakan diskontinyu. Damn! Macbook Pro baru tersebut bukan cuma serupa dengan Macbook Unibody, tapi juga dilengkapi dengan FireWire dan backlit keyboard. Gue langsung pasang iklan di Kaskus untuk menjual Macbook Unibody gue dan alhamdulillah langsung terjual dalam semalam walaupun gue harus merugi karena harganya jatuh gara-gara rilis terbaru Macbook Pro. Keesokan harinya gue langsung berangkat ke iBox Senayan dan berbekal sedikit pinjaman uang dari temen gue, akhirnya gue bisa ngeboyong Macbook Pro pulang.

Pengalaman pertama bermigrasi ke Mac itu awalnya cukup menyusahkan seperti halnya beralih ke Linux. Banyak aplikasi yang biasa digunakan di Windows tidak ditemukan pengganti yang sepadan atau malah tidak ada penggantinya sama sekali. Tapi sukurnya semua fungsi utama yang gue perlukan untuk menyelesaikan pekerjaan gue tersedia karena dalam proses development gue memang menggunakan tools yang multi-platform seperti Eclipse untuk IDE, Firefox+firebug untuk testing+debugging, dan phpMyAdmin untuk mysql client. Inilah daftar lengkap aplikasi yang gue gunakan di Windows berikut padanannya:

WINDOWSMAC
EclipseEclipse
Notepad++Text Wrangler
Microsoft OfficeMicrosoft Office
Adobe CSAdobe CS
ThunderBirdThunderBirt --> Entourage --> Mail
PuttyTerminal
TightVNCChickenVNC
TortoiseSVNSCPlugin
Total CommanderN/A (Finder?)
WinSCPCyber Duck (and it sucks)
Setelah lama sibuk mencari padanan aplikasi, akhirnya gue sadar pada dasarnya beralih ke Windows itu sama saja dengan “move on” setelah putus dari pacar. Kita tidak sepantasnya menyamakannya dengan sang “mantan”, sebaliknya kita mencoba menerima apa yang bisa diberikannya. Begitu gue mencoba untuk membuka diri terhadap kultur di sistem operasi OS X, gue merasa jauh lebih nyaman dengan berbagai aplikasi sederhana  dengan fitur yang fundamental tapi sangat berguna. Membuat gue semakin sadar bahwa selama ini Windows telah memperumit hidup gue dengan menyediakan fitur-fitur yang sebenarnya ga gue butuhkan. Banyak hal ajaib yang gue temukan dan itu semua sekarang sudah sangat akrab di keseharian gue sehingga membuat gue sering merasa canggung ketika menggunakan PC. Beberapa hal ajaib tersebut digambarkan dengan sempurna oleh seorang pengguna PC yang “terpaksa” menggunakan Mac.

Itulah laptop yang sampai sekarang ini menemani sepak terjang gue sebagai Freelance Web Developer.  Saat ini bodynya udah ga mulus lagi karena sering diperlakukan semena-mena tapi dia ga pernah menyusahkan. Battery life cycle nya juga udah melebihi 500 dan sudah peringatan untuk mengganti batre. Tapi karena masi mampu bertahan selama kurang lebih 3 jam tanpa charger, gue rasa penggantian batre nya bisa ditunda dulu sampe bener-bener sekarat hehe.

Coconut Battery

Secara performance nya juga masih tetap bisa diandalkan, terutama setelah memory nya di upgrade jadi 8Gb. Hang? Pernah sih, tapi itu juga masih bisa diitung dengan jari tangan gue dan selama kurang lebih 3 tahun ini baru sekali doank mengalami Kernel Panic (atau BSOD dalam Windows). Satu hal yang pasti, menggunakan Mac itu menyehatkan karena selama menggunakan Mac ga pernah ngalamin yang namanya sakit kepala ngurusin virus dan malware.

7 thoughts on “Apple in My Life

    • Novan Adrian

      Nasib ya bos, dimana mana kantor default nya windows. Padahal kantor gue sekarang itu agency, tapi tetep aja dikasi windows 😀

  1. ceplok

    dibanding text wrangler lebih enak textmate sih… banyak bundle nya.. apalagi yang versi 2 udah gratis.
    buat git bisa pake tower… keren…
    total commander = total finder

    cyberduck emang ga enak pake transmit coba… 😀

    buat office enakan pake pages / keynote.. pertama2 emang butuh penyeusain dikit.. tapi kalo udah biasa jauh lebih mudah pages sama keynote.. apalagi effect2 keynote 😀

    kalo excel tetep ga bisa di kalahin sih…

Leave a Reply to ceplok Cancel reply