Hidup Sebagai Freelancer

Standard

Mengapa Freelance? Apa yang salah dengan menjadi pegawai yang setiap bulan terima gaji walaupun sedang tidak ada kerjaan? Entah bagaimana dengan Freelancer yang lain, cuma gw sempat merasa konyol menjadi pegawai sewaktu menerima side job yang cuma butuh waktu dua minggu tapi fee nya hampir sama dengan gaji sebulan.

Jangan salah, diawal karir menjadi pegawai gw pernah berada di posisi dimana gw lebih mementingkan pengetahuan dan pengalaman, uang bukan masalah. Tapi sekarang bagi gw ada yang jauh lebih penting dan berharga dari pengetahuan dan pengalaman. Uang? Bukan, tapi KEBEBASAN. Freelance bisa memberikan kebebasan yang tidak bisa didapatkan pada saat menjadi pegawai. Freelance tidak mengenal tempat dan waktu kerja. There’s no nine-to-six, there’s no cubicle. Tidak ada batasan. Bisa kerja jam 8 pagi sambil tiduran dikasur atau jam 4 sore sambil nikmatin latté vanilla hangat di salah satu sudut café.

Tapi apakah menjadi Freelancer selalu seindah itu? Tidak juga, setidaknya ada beberapa hal yang HARUS diperhatikan untuk menjadi Freelancer.

Continue reading

Sangkuriang Session

Standard

First of all, gw maw ngucapin slamet bwat temen sekantor gw, yulia alias Maki (Mama Kintan) yang baru aja launching baking site nya. jujur, gw kagum banget ama ini orang. dia punya 3 pekerjaan yang di lakukan secara concurrent: pegawai kantor, ibu rumah tangga, baker, DAAAAN.. blogger. Btw, speed nge-blog nya bisa mencapai 4 ppd (posting per day, bukan patas :-p ). Heran, kok gw susah bener nulis blog yah, sampe blog gw pun menderita “hibernate” gini kayak gw. hhhh…:-S lu makan apa siy yul? 😕

Okeh, gw maw nge-dongeng dulu. Sekarang kerjaan gw udah kembali normal, setelah sebelumnya sekitar 6 bulan “puasa coding” karena tiap hari harus ke client “cuma” bwat meeting seharian. Gw mulai nikmatin lagi nature gw sebagai programmer, lalu tiba2 atasan gw dengan ajaib nya nunjuk gw sebagai manager divisi solution architect & research lengkap dengan tasklist yang seukuran kuda nil, sukurnya sekarang kuda nil nya udah se gede kambing dan siap di kurban. And then, here comes the second *boom*: dua project kuda nil lain (dari habitat yang berbeda) yang tadinya “hibernate” selama setahun tiba2 aja bangun dan bikin panik tim yang lagi sibuk dengan kambing2 nya (ada kucing binal juga siy, alias imut ngegemesin tapi kadang suka nyakar). dua project pun jalan dengan deadline 3 bulan terhitung mulai dari Desember 2007. So, mulai dari desember 2007 hingga berikutnya yang terjadi adalah, kambing2 di iket di pohon (sebagian lagi terlantar dan nyari rumput suka suka) dan seluruh tim menggembala dua ekor kuda nil sekaligus.
Continue reading

SE-AM-less Integration

Standard

Saat ini gw memegang dua posisi pekerjaan di kantor gw, Software Engineer (SE) dan Account Manager (AM). Terus terang, menjalankan dua pekerjaan sekaligus bukan hal yang mudah bwat gw. Selalu harus ada salah satu yang mengalah karena SE dan AM adalah dua hal yang jauh berbeda. Satunya sangat bersifat teknikal dan satunya cenderung bergumul dengan hal-hal administratif. Bener-bener kontras.

Continue reading

Desperado Programmers at Banjarmasin

Standard

Saat ini gw dan 2 orang temen kantor sedang ada tugas di Banjarmasin terkait project dengan salah satu klien kantor. Kami menginap di hotel berjudul VICTORIA. Sepintas hotel ini kelihatan seperti rangkaian ruko bertingkat tiga yang keliatannya seperti hotel murahan, tapi ternyata tampak luarnya berbeda banget dengan isinya. Kalo dilihat dari interiornya, hotel ini sama sekali gak mencerminkan hotel murahan. Harga kamarnya aja sekitar 400-an ribu permalam.

Continue reading