Hidup Sebagai Freelancer

Standard

Mengapa Freelance? Apa yang salah dengan menjadi pegawai yang setiap bulan terima gaji walaupun sedang tidak ada kerjaan? Entah bagaimana dengan Freelancer yang lain, cuma gw sempat merasa konyol menjadi pegawai sewaktu menerima side job yang cuma butuh waktu dua minggu tapi fee nya hampir sama dengan gaji sebulan.

Jangan salah, diawal karir menjadi pegawai gw pernah berada di posisi dimana gw lebih mementingkan pengetahuan dan pengalaman, uang bukan masalah. Tapi sekarang bagi gw ada yang jauh lebih penting dan berharga dari pengetahuan dan pengalaman. Uang? Bukan, tapi KEBEBASAN. Freelance bisa memberikan kebebasan yang tidak bisa didapatkan pada saat menjadi pegawai. Freelance tidak mengenal tempat dan waktu kerja. There’s no nine-to-six, there’s no cubicle. Tidak ada batasan. Bisa kerja jam 8 pagi sambil tiduran dikasur atau jam 4 sore sambil nikmatin lattΓ© vanilla hangat di salah satu sudut cafΓ©.

Tapi apakah menjadi Freelancer selalu seindah itu? Tidak juga, setidaknya ada beberapa hal yang HARUS diperhatikan untuk menjadi Freelancer.

Sejak gw memutuskan menjadi Freelancer Maret 2009 silam, tidak ada satupun dari keluarga yang setuju, termasuk mantan pacar gw dulu (yang mana sekarang udah jadi Istri), tapi dia dengan sangat bijaksana mendukung keputusan gw dan siap dengan segala resikonya. Dan berdasarkan pengalaman (well, belajar dari kesalahan untuk lebih tepatnya) selama menjadi Freelancer selama kurang lebih 1 tahun 9 bulan (sampai tulisan ini dibuat), inilah hal-hal yang menurut gw perlu diperhatikan pada saat memutuskan menjadi Freelancer.

Self Marketing

Perlu dicatat, Freelancer BUKAN Entrepreneur. Freelancer adalah self-employement dimana artinya kita bekerja untuk diri kita sendiri. Berbeda dengan Entrepreneur yang mempekerjakan orang lain untuk usahanya. Namun seperti halnya entrepreneur, Freelancer juga memerlukan marketing, cuma bedanya yang dipasarkan adalah diri kita sendiri.

Pada saat memulai menjadi Freelancer, kita harus belajar untuk mempromosikan diri kita. Bisa ke temen, relasi, mantan klien, atau keluarga sekalipun. Kirimi mereka email atau SMS yang isi nya kira-kira menyebutkan “Hei, gw baru resign nih, mau nekat jadi freelancer. Kalo ada project, feel free untuk contact gw ya. Harga bisa cincai lah, sesuai kualitas. Dan yang jelas lo pasti kecipratan deh. Jangan lupa lho!”. Ya silahkan dibahasakan dengan baik untuk masing-masing recipient.

Saving

Nah, ini penting nih. Tanpa ini menjadi Freelancer akan menjadi jalan pintas untuk bunuh diri. Karena Freelancer yang baru terjun seringkali mengalami masa-masa sepi orderan atau kadangkala ada project yang harusnya selesai dalam sebulan tapi molor berbulan-bulan. Saving alias tabungan adalah salah satu penyangga keuangan (buffer) pada masa-masa sulit pada saat menjadi Freelancer.

Tambahan, pada saat menghitung nilai suatu project, penting untuk memasukkan nilai tambahan yang bisa menjadi buffer untuk berjaga-jaga kalau projectnya molor. Nilai nya juga bisa berbeda-beda untuk tiap project. Rumus nya kira-kira begini:

Buffer = Biaya Hidup Sebulan x 0.75 x Prediksi Lama Molor

Misalkan jadwal pengerjaan 1 bulan dan prediksi molor nya 3 bulan. Kalau biaya hidup sebulan adalah 2 juta, maka Buffer = 2,000,000 x 0.75 x 3 = Rp. 4,500,000,-

Bagaimana memprediksikan suatu project akan molor atau tidak? Ini tergantung jam terbang. Semakin sering handle project, semakin sering ketemu dengan berbagai tipe klien, semakin mudah memprediksikan suatu project bakal molor atau tidak. Misalnya begini, ada klien, salah satu mall terkemuka, minta dibuatkan official website dimana isinya informasi tentang tenant-tenant yang ada di mall tersebut (store info, product info, promo / sale, etc). Misalkan dia punya 100 tenant dan untuk mengumpulkan data dari 1 tenant saja membutuhkan waktu 1 hari (biasanya tenant belum tentu bisa menyediakan data yang dibutuhkan dalam 1 hari), maka butuh waktu 100 hari (3 bulan 10 hari) untuk mengumpulkan data dari semua tenant. Dan biasanya klien jenis ini minta project kelar dalam sebulan.

Incoming Project

Bisa dibilang ini adalah jaminan untuk resign. Setidaknya setelah resign udah langsung ada pendapatan dan kerjaan biar dapur tetap bisa ngebul. Boleh aja ga ada project asal tabungan cukup. Jadi selama nyari project ga perlu khawatir besok mau makan apa. Lebih bagus lagi kalo punya project chaining, yaitu rangkaian project baik yang siap jalan maupun masih menjadi prospek dan dimasukkan dalam Freelance Project Timeline.

Demikian beberapa hal yang menurut gw perlu diperhatikan pada saat memutuskan untuk menjadi Freelance. Kalo ada komentar, tambahan, masukan atau pertanyaan silahkan disebutkan lewat komen atau email.

Semoga bermanfaat. Semangat!

14 thoughts on “Hidup Sebagai Freelancer

  1. SUPER sekali bung opan…
    bener banged, berasa tertampar gw cuy πŸ™

    kayaknya udah saatnya ekspansi dari praktisi kencan menjadi praktisi bisnis πŸ˜‰

  2. ika

    that’s coooolllll ooom novaaann.. move on where life leads you.. di mana ada sinar terang disitulah you look at and jangan lupa pake kaca mata hihiiii.. pokonya d best for your future endevour.. semangaaad

Leave a Reply to ika Cancel reply