Satu Dekade Tsunami Aceh

Standard

Hari ini, satu dekade sejak tsunami melumpuhkan daerah Aceh dan sekitarnya, menyisakan luka dan trauma yang mendalam bagi mereka yang mengalaminya. Saya tidak berada disana saat musibah terjadi, tapi mendengar cerita dari apa yang dialami oleh keluarga dan teman dekat saya cukup membuat saya bisa membayangkan dengan jelas apa yang mereka alami. Ini yang membuat saya merinding saat menonton film 2012 sementara sebagian besar orang berpendapat film tersebut biasa saja. Mereka tidak tahu rasanya memiliki ibu yang nyaris diterjang ombak setinggi pohon kelapa.

Saat itu jam 7 pagi saat salah seorang teman kosan seberang yang kebetulan sama-sama berasal dari Aceh berteriak, “Cepat lihat Metro TV, Aceh gempa!”. Spontan saya coba menghubungi keluarga di Banda Aceh, tidak ada yang mengangkat telpon. Belakangan saya tahu kalau saat saya telpon mereka sedang merangkak keluar dari rumah karena dengan gempa berkekuatan 8,5SR bahkan untuk berdiri saja sulit. Dan 30 menit kemudian komunikasi ke Aceh putus total, saya tidak bisa menghubungi siapapun di Banda Aceh. Air dari lautan menyerbu daratan, menutupi hampir seluruh kota Banda Aceh, menyapu bersih apapun yang dilaluinya dan meratakan rumah-rumah dengan tanah.

Setelah komunikasi terputus, saya tidak tahu sama sekali kondisi keluarga di Banda aceh, ada ibu dan abang saya serta istri dan anaknya yang saya tidak tahu apakah mereka selamat atau tidak. Saya cuma bisa mendapatkan informasi melalui TV. Suasana saat itu memang sangat mencekam, mayat bergelimpangan dimana-mana, jaringan listrik juga mati sehingga suasana menjadi gelap gulita di seluruh Banda Aceh. Bahkan Najwa Shihab yang saat itu masih reporter biasa tak bisa menahan tangis di depan kamera. Baru tiga hari kemudian ibu saya berhasil menelpon ke Jakarta, dari situ saya tahu ibu dan abang saya serta istri dan anaknya selamat dan mereka sedang mengungsi di Medan. Rasa cemas menyelimuti keluarga saya ketika kami belum juga mendapatkan kabar keberadaan kakak dari ayah saya, dia dan suaminya tidak ditemukan disekitar rumah mereka. Dan mereka akhirnya tidak pernah ditemukan.

Tsunami juga membawa pergi salah satu sahabat terbaik saya, teman yang saya kenal sejak kecil. Namanya Fedrian, kami biasa memanggilnya Fred. Dialah orang yang selalu menjadi panutan saya daam banyak hal. Saya banyak meniru caranya berpakaian, menulis, menggambar, dan bahkan jokes nya yang menurut saya lucu.

Fedrian dan Edi

Fedrian dan Edi

Ini adalah foto Fred (kiri) dan Edi (kanan) pada saat kami mengadakan Tryout UMPTN untuk siswa SMA di Banda Aceh, tepatnya di SMU 3 Banda Aceh. Fred dan Edi adalah seniman grafis yang sama-sama memiliki selera humor yang baik. As you can see.

Tsunami membawa Fred beserta seluruh keluarganya, ayah, ibu, kakek, nenek dan dua adiknya. Kakak tertuanya adalah satu-satunya bagian dari keluarga utama yang tersisa karena kebetulan saat itu yang bersangkutan sudah menetap di Timur Tengah. Menurut kabar dari keluarga dekatnya, hanya jasad kakek dan dua adiknya yang ditemukan.

Saya mengenalnya dari kecil, karena itu saya sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Kehilangannya seperti kehilangan keluarga sendiri. Bahkan 1 dekade masih belum bisa mengobati. Foto dibawah ini untuk mengenangnya. T-Shirt dan celana pendek yang saya pakai adalah satu-satunya “kenang-kenangan” dari Fred yang masih saya simpan sampai sekarang.

Selamat beristirahat dengan tenang sahabat, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Nya. We always miss you.

Stupak

Feature image was taken from this website.

Leave a Reply